Selasa, 10 Juli 2018

Paper Kewirausahaan 108 Sarah Salsabila "Peluang Berbisnis dengan Mengikuti Tren di Masyarakat"


Peluang Berbisnis dengan Mengikuti Tren di Masyarakat

Vina Serevina, Sarah Salsabila
Prodi Pendidikan Fisika, Fakultas MIPA, Universitas Negeri Jakarta, Jl. Rawamangun Muka 13320



Abstrak

            Untuk menjadikan bisnis lebih tahan lama, seorang pengusaha harus mengikuti tren yang berlaku. Sejarah membuktikan banyaknya perusahaan yang gulung tikar karena tidak dapat beradaptasi dengan lingkungan mereka. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis bagaimana cara untuk memaksimalkan keuntungan dari bisnis tersebut. Metode yang dilakukan adalah metode kuantitatif. Dari hasil analisa didapatkan cara untuk memaksimalkan bisnis yang mengikuti tren, pengusaha harus: (1) Menganalisis biaya operasional, (2) Menentukan tempat berjualan dan target konsumen, (3) Memilih platform yang tepat untuk mempromosikan produk, (4) Jeli dalam melihat peluang bisnis.

Kata Kunci: peluang, bisnis, tren, kelebihan, kekurangan

Abstract

To make a long-lasting business, an entrepreneur must follow the prevailing trend. History proves that many companies are out of business because they can not adapt to their environment. The purpose of this study is to analyze how to maximize profits from the business. The method used is quantitative method. The result of this study is when an entrepreneur wanted to maximize the business profits, they must: (1) Analyze operational costs, (2) Determine the place to sell their products and their target consumers, (3) Choosing the right platform to promote products, (4) Able to see business opportunities

Keywords: opportunities, business, trends, maximize, profit

Pendahuluan

            Pengusaha yang sukses tahu bagaimana cara mengikuti tren yang paling signifikan dalam lingkup bisnis mereka. Sebagian orang menciptakan tren, Sebagian orang mengerti bagaimana alur tren, sebagian orang dapat menciptakan dan mengerti alur tren. Sebagian sisanya adalah orang yang tidak dapat menciptakan ataupun mengerti tren. (Sutevski)

Untuk menjadikan bisnis lebih tahan lama, seorang pengusaha harus mengikuti tren yang berlaku. Sejarah membuktikan banyaknya perusahaan yang gulung tikar karena tidak dapat beradaptasi dengan lingkungan mereka. Pasar dan industri bisnis selalu berubah menurut waktu. Seluruh lingkungan ruang lingkup bisnis juga berubah tiap waktu. Jadi, bisnis pun harus terus dinamis dan fleksibel mengikuti perkembangan zaman. Karena itu seorang pengusaha harus mengikuti tren yang berlaku. Pengusaha tidak dapat menciptakan tren viral dengan seorang diri, mereka harus mengerti apa yang dibutuhkan dan diinginkan kostumer untuk membuat sebuah tren. (Sutevski)

Tahu bulat, es kepal Milo, fidget spinner, dan slime merupakan salah satu contoh dari tren berbisnis yang ada selama dua atau tiga tahun terakhir. Pada masa jayanya penjual tahu bulat bisa mendapatkan omset Rp1.500.000,00 per hari, seorang pengusaha es kepal Milo dapat menghasilkan Rp5.000.000,00 per hari (R, 2018). Theresa Nguyen, seorang pengusaha cilik dari Amerika, dicatat menghasilkan lebih dari $3000 setiap bulannya dari penjualan slime, mainan yang bahan dasarnya hanyalah lem dan boraks, dengan mempromosikan produknya menggunakan media sosial seperti Instagram, atau Facebook (Phillips, 2017). Itu adalah beberapa contoh dari keuntungan berbisnis dengan menjual apa yang sedang menjadi tren.

Sekarang pertanyaannya adalah, apakah keuntungan dari bisnis yang berbasis dengan tren? Apakah kekurangan dari bisnis yang terlalu trend oriented? Bagaimana cara agar bisnis yang berbasis tren ini bisa bertahan lebih lama dan menghasilkan lebih banyak keuntungan?

Bisnis yang bergantung pada tren pastilah memiliki kekurangan dan kelebihan tersendiri. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis bagaimana cara untuk memaksimalkan keuntungan dari bisnis tersebut.

Metodologi

            Pada penelitian ini digunakan metode penelitian kuantitatif. Metode penelitian kuantitatif dapat diartikan sebagai metode penelitian yang berlandaskan pada filsafat positivisme, digunakan untuk meneliti pada populasi atau sampel tertentu. Teknik pengambilan sampel pada umumnya dilakukan secara random, pengumpulan data menggunakan instrumen penelitian, analisis data bersifat kuantitatif/statistik dengan tujuan untuk menguji hipotesis yang telah ditetapkan. (Sugiyono, 2012)

\


















Pembahasan

            Berdasarkan hasil penelitian, tentu bisnis berorientasi tren memiliki kelebihan dan kekurangan. Kelebihannya antara lain adalah seorang pengusaha yang mengikuti tren dapat meramalkan tren yang akan terjadi berikutnya. Ketika produk mengalami penurunan dalam popularitasnya, seorang pengusaha dapat memperkirakan apa lagi yang akan menjadi tren.dengan mengikuti tren, seorang pengusaha dapat melihat pola dalam tren karena sesungguhnya tren adalah siklus yang terus berputar. Dengan mengikuti tren, pengusaha dapat mengetahui apa saja yang harus di kembangkan dari produknya, sebagai contoh penjualan tahu Sumedang turun drastis hingga 80% (Herdiana, 2017) . Pengusaha tahu sumedang harusnya mengembangkan produknya agar tetap menarik dan tidak kalah saing. Selain itu bisnis yang bergantung pada tren, bahkan jika pengusaha hanyalah “mengikuti” bukan menciptakan tren, produk yang dijual sudah memiliki brand name yang kuat. (Sutevski)

            Sedangkan kekurangan adalah apabila pengusaha sangat bergantung pada tren, maka produk yang dijual tidak bisa dijual dalam jangka panjang. Banyak hal yang menjadi tren hanya dalam kurun waktu kurang dari satu tahun, ketika tren sudah mereda maka pengusaha harus mencari tren baru lagi untuk tetap bertahan.

            Bagaimana cara untuk memaksimalkan pendapatan dari tren yang berlaku? Pertama-tama pengusaha harus menganalisis biaya operasional, contohnya, penjualan tahu bulat biasanya menyewa mobil pickup, dilansir dari Jabar Ekspres bahwa harga sewa mobil pickup mencapai Rp100.000,00 per hari, sedangkan tahu bulat dijual seharga Rp500,00 per buah, pengusaha harus mempertimbangkan apakah dengan berjualan tahu bulat bisa mendapatkan keuntungan? Selanjutnya pengusaha harus melihat tempat strategis untuk berjualan/target konsumen. Es kepal Milo memiliki harga sekitar Rp10.000,00 – Rp20.000,00, harga yang terlalu mahal untuk dijual kepada anak-anak SD. Maka penjual es kepal Milo membuat ukuran small untuk es kepal Milo seharga Rp5.000,00 yang kemungkinan masih dapat dibeli oleh anak-anak SD. Kemudian pengusaha harus mencari platform yang tepat untuk melakukan promosi dari produk yang akan dipasarkan, seperti yang dilakukan Theresa Nguyen, yaitu memanfaatkan media sosial untuk mempromosikan slime miliknya. Yang terakhir, pengusaha harus jeli dalam melihat peluang dalam memanfaatkan tren dalam bisnis.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar