Minggu, 08 Juli 2018

Paper Kewirausahaan 108 Riky Tri Hartagung "Analisis Pemecahan Masalah Dalam Pemasaran Terhadap Penetapan Harga Cabai Rawit Merah Di Jakarta"


Analisis Pemecahan Masalah Dalam Pemasaran Terhadap Penetapan Harga Cabai Rawit Merah Di Jakarta
Vina Serevina, Riky Tri Hartagung*
Program Studi Pendidikan Fisika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Jakarta
email:
rikytri10@gmail.com

Abstrak 
Penelitian bertujuan mengetahui solusi pemecahan terhadap penetapan harga cabai rawit merah di Jakarta Timur. Penelitian ini merupakan studi lapangan dengan menggunakan metode kualitatif deskriptif. Subjek penelitian ini terdiri dari Staf dan pimpinan Bagian Informasi PD. Pasar Jaya Pasar Induk Kramat Jati; Pedagang Besar Cabe rawit merah di Pasar induk Kramat Jati, dan; Pedagang Kecil di Pasar Induk Kramat Jati. Data-data yang dikumpulkan melalui observasi partisipatif, wawancara dan dokumentasi. Hasil penelitian menemukan bahwa masalah dalam penetapan harga cabai rawit merah terjadi melalui penetapan harga segmentasi pelanggan, penetapan harga bentuk produk, penetapan harga citra, penetapan harga saluran dan penetapan harga waktu. Penetapan harga cabai rawit merah di Pasar Induk Kramat Jati dilakukan untuk membedakan kebutuhan berdasarkan kriteria konsumen demi berjalannya mata rantai distribusi cabai rawit merah serta menjaga kestabilan harga cabai rawit merah yang akan masuk ke Jabodetabek dengan tetap menjaga profit pedagang cabai rawit merah.  
Kata Kunci : Harga, Penetapan Harga, Pasar Induk, Metode Kualitatif Deskriptif



  PENDAHULUAN
       Indonesia merupakan negara yang kaya akan sumber daya alam dan tanahnya yang subur tersebar luas di seluruh kawasan dunia. Indonesia dikenal juga sebagai negara agraris yakni sebagian besar masyarakatnya sampai saat ini bermata pencaharian sebagai petani walaupun muncul kemajuan teknologi pertanian yang membangkitkan pengusaha-pengusaha besar di bidang pertanian. Indonesia memiliki banyak jenis tanaman yang telah tumbuh dan berkembang, selain itu Indonesia juga terkenal dengan sebutan negara agraris, dimana sebagian besar wilayah Indonesia digunakan untuk usaha pertanian. Hal ini disebabkan karena kondisi iklim serta letak geografi yang sangat menunjang (Ashari, S. 1995).
       Salah satu usaha pertanian yang ada di Indonesia adalah sayuran, selain dari usaha pertanian padi dan jagung. Pengelolaan usahatani sayuran dapat meningkatkan pendapatan petani dengan skala usaha kecil karena nilai ekonomi sayuran yang besar. Adanya permintaan pasar dalam negeri maupun luar negeri yang terus berkembang memungkinkan untuk memperluas peningkatan produksi sayuran. Hal ini dibuktikan dengan adanya perluasan areal pertanian, peningkatan teknologi, dan perlindungan terhadap produksi dalam negeri, dengan begitu maka produksi sayuran dalam negeri bisa diekspor keluar negeri untuk memperluas peningkatan produksi sayuran.
       Cabai merupakan salah satu tanaman sayuran yang keberadaannya sangat dibutuhkan oleh sebagian masyarakat, cabagi digunakan hampir di semua masakan sehari-hari. Harga cabai selalu berfluktuasi mengikuti momentum besarnya pemerintah. Sementara pada saat panen raya harga cabai menjadi sangat murah (Suyanti, 2014). Produksi cabai terluas dan paling tinggi berada di Jawa, khususnya jawa Tengah tetapi harga cabai selalu berfluktuatif, hal ini disebabkan karena komoditas cabai tidak tahan lama disimpan. Konsumen biasanya membutuhkan dalam bentuk sayuran yang masih segar. Hal ini perlu adanya sistem pemasaran yang efisien dari produsen ke konsumen. Dalam Peraturan Menteri Perdagangan Pasal 1 Tahun 2016 dituliskan bahwa harga acuan penjualan di konsumen adalah harga penjualan di tingkat konsumen yang di tetapkan oleh Menteri dengan mempertimbangkan struktur biaya yang wajar yang mencakup antara lain biaya produksi, biaya distribusi, keuntungan dan biaya lainnya. Sistem pemasaran yang efisien menuntut agar pihak-pihak yang terlibat di dalamnya diberi informasi dengan baik. Pembeli memiliki informasi mengenai sumber-sumber penawaran. Penjual memiliki informasi mengenai harga, mutu, dan sumber-sumber produk sehingga dengan begitu keduanya tidak akan dirugikan.
       Dalam observasi awal yang dilakukan, harga cabai rawit merah selalu mengalami perubahan harga yang signifikan dari bulan Maret hingga Mei.  Hal ini tentunya akan mempengaruhi tingkatan kepuasan konsumen. Perkembangan produksi dan produktivitas dipengaruhi oleh luas panen, jika semakin luas maka jumlah produksi dan produktivitasnya semakin meningkat tetapi sebaliknya jika luas panennya sedikit maka produksi dan produktivitasnnya akan menurun. Seperti yang dilakukan oleh Dewi Retno Sari (2014) dalam penelitiannya yang berjudul “Analisis Faktor-faktor yang Mempengaruhi Impor Cabai Di Indonesia”, variabel harga cabai domestik berpengaruh positif terhadap impor cabai di Indonesia. Hal ini yang mengakibatkan tidak stabilnya jumlah produksi. Tidak stabilnya produksi akan berpengaruh terhadap permintaan cabai merah dan menyebabkan harga cabai merah berfluktuasi. Dari latar belakarang tersebut, maka dirumuskan permasalahan sebagai berikut.
1.      Apakah produksi cabai rawit merah dalam negeri berpengaruh terhadap kenaikan harga cabai?
2.      Apakah impor cabai berpengaruh terhadap kenaikan harga cabai?


TINJAUAN PUSTAKA
Penetapan Harga
Menurut Philip Kotler dan Gary Amstrong (2008: 345) “Harga (Price) adalah jumlah yang ditagihkan atas suatu produk atau jasa. Lebih luas lagi. Harga adalah jumlah semua niali yang diberikan oleh pelanggan untuk mendapatkan keuntungan dari memiliki atau menggunakan suatu produk atau jasa”. Harga merupakan elemen penting dalam strategi pemasaran dan harus senantiasa dan dilihat dalam hubungannya dengan strategi pemasaran. Harga adalah suatu nilai tukar yang bisa disamakan dengan uang atau barang lain untuk manfaat yang diperoleh dari suatu barang atau jasa bagi seseorang atau kelompok pada waktu tertentu dan tempat tertentu. Harga berinteraksi dengan seluruh elemen lainnya dalam bauran pemasaran untuk menentukan efektivitas dari setiap elemen dan keseluruhan elemen. Tujuan yang menuntun strategi penetapan harga haruslah merupakan bagian tujuan yang menuntun strategi pemasaran secara keseluruhan.
Harga menurut Oentoro (2012:149) merupakan satu-satunya unsur bauran pemasaran yang memberikan pemasukan atau pendapatan bagi perusahaan dari sudut pandang pemasaran, harga merupakan satuan moneter atau ukuran lainnya (termasuk barang dan jasa lainnya) yang ditukarkan agar memperoleh hak kepemilikan atas penggunaan suatu barang atau jasa. Jadi harga adalah nilai tukar yang sebanding antara uang dan barang atau jasa untuk mendapatkan manfaat dari barang atau jasa yang di jual.       
Faktor-faktor dalam Penetapan Harga
Harga yang diajikan oleh perusahaan akan gagal bila terlalu tinggi untuk dapat menghasilkan keuntungan. Bila pelanggan menganggap bahwa harga lebih besar daripada nilai produk. Mereka tidak akan membeli produk. Biaya produksi menetapkan batas bawah bagi harga. Bila perusahaan menetapkan harga dibawah biaya produksi, perusahaan akan mengalami kerugian. Dalam penetapan harga diantara dua keadaan ekstrem ini, perusahaan harus mempertimbangkan sejumlah faktor internal maupun eksternal lainnya, termasuk strategi dan bauran pemasaran secara keseluruhan, kondisi pasar dan permintaan dan strategi serta harga dari pesaing. Penetapan harga menurut Kottler dan Armstrong (345) adalah sebagai berikut: 
a.       Penetapan harga berdasarkan nilai. Penetapan harga berdasarkan nilai yaitu seorang pemasar tidak dapat mendesain suatu produk atau program pemasar dan kemudian menetapkan harga kecuali ia mengetahui nilai yang terkandung pada produknya.
b.      Penetapan harga berdasarkan nilai yang baik. Semakin banyak pemasar yang menggunakan strategi penetapan harga dengan nilai yang baik (good-value-pricing) menawarkan kombinasi yang tepat antara kualitas dan layanan yang baik pada harga yang wajar. Tipe penting dari penetapan harga dengan nilai yang baik pada tingkatan eceran adalah penetapan harga rendah setiap hari (everyday low pricing-EDLP). EDLP melibatkan penerapan harga yang konstan, harga rendah setiap hari dengan sedikit atau diskon harga berkala. Sebaliknya, penetapan harga fluktuatif (high-low pricing) termasuk menetapkan harga yang lebih rendah secara berkala untuk menawarkan  harga yang lebih rendah secara berkala pada barang-barang tertentu.
c.       Penetapan harga dengan nilai tambah. Perusahaan harus menjaga nilai dari penawaran pasarnya untuk menjaga kekuatan penetapan harga terutama bagi pemasok komoditas, dengan karakter sedikit terdiferensiasi dan persaingan harga yang ketat untuk meningkatkan kekuatan penetapan harga mereka.
d.      Biaya perusahan dan produk. Penetapan harga berdasarkan biaya (cost-based pricing) melibatkan penetapan harga berdasarkan biaya memproduksi, distribusi dan penjualan produk beserta tingkat pengembalian yang wajar bagi usaha dan risiko. Biaya perusahaan dapat menjadi elemen penting dalam strategi penetapan harganya. Jenis-jenis biaya, biaya tetap yang biasa disebut biaya overhead. Biaya variabel berubah sesuai tingkat produksi. Biaya total adalah jumlah dari biaya tetap dan variabel untuk tingkat produksi yang dihasilkan.
e.       Biaya pada tingkat produksi yang berbeda. Biaya bervariasi pada tingkat produksi yang berbeda.
f.       Penetapan harga berdasarkan biaya. Biaya-plus (cost-plus pricing) menambahkan suatu mark- up standar pada biaya produk. Perusahaan konstruksi, sebagai contoh, memperkirakan biaya keseluruhan proyek dan menambahkan suatu mark-up standar bagi keuntungan. Pengacara, akuntan dan profesional.

Pasar Induk Kramat Jati
Pasar Induk Kramat Jati terletak pada koordinat 6º17’44.36” lintang selatan dan 106º52’10.87” Bujur Timur, dengan lokasi di Jl. Raya Bogor Km.17, Jakarta Timur, Provinsi DKI Jakarta. Didirikan berdasarkan Surat Keputusan Gubernur DKI Jakarta No.D-V.a 18/1/17/1973 tanggal 28 Desember 1973. Telah diremajakan mulai tanggal 1 Maret 2003 sampai dengan tanggal 31 Desember 2008, sehingga saat ini mempunyai luas areal 14,76 ha, luas bangunan 83.605 m² dan luas fasiitas parkir 14.737 m².
Pasar Induk Kramat Jati merupakan pusat perdagangan sayur mayur dan buah-buahan untuk menjamin kelancaran distribusi serta sebagai terminal pengadaan/penyaluran sayur mayur dan buah-buahan yang akan berpengaruh kepada kegiatan perekonomian baik lokal maupun regional. Di area Pasar Induk Kramat Jati terdapat berbagai macam aktivitas utama yang di tempatkan sebanyak 1.639 pedagang, dalam sehari, jumlah pasokan berbagai jenis komoditi di area Pasar Induk Kramat Jati sebanyak: sayur-mayur 1.100 – 1400 ton, buah- buahan 1.200-1500 ton, umbi-umbian 90-120 ton dan bumbu dapur 1-30 ton dengan daerah distribusi untuk wilayah DKI Jakarta 70%, Botabek 25%, restoran 2% dan untuk lain-lain 3%.
Metode Penetapan Harga
Menurut Philip Kotler dan Gary Amstrong (2008: 345) “Harga (Price) adalah jumlah yang ditagihkan atas suatu produk atau jasa. Lebih luas lagi. Harga adalah jumlah semua nilai yang diberikan oleh pelanggan untuk mendapatkan keuntungan dari memiliki atau menggunakan suatu produk atau jasa”. Harga merupakan elemen penting dalam strategi pemasaran dan harus senantiasa dan dilihat dalam hubungannya dengan strategi pemasaran. Harga adalah suatu nilai tukar yang bisa disamakan dengan uang atau barang lain untuk manfaat yang diperoleh dari suatu barang atau jasa bagi seseorang atau kelompok pada waktu tertentu dan tempat tertentu. Harga berinteraksi dengan seluruh elemen lainnya dalam bauran pemasaran untuk menentukan efektivitas dari setiap elemen dan keseluruhan elemen. Tujuan yang menuntun strategi penetapan harga haruslah merupakan bagian tujuan yang menuntun strategi pemasaran secara keseluruhan.



METODOLOGI PENELITIAN
Penelitian ini dilakukan di Pasar Induk Kramat Jati, berlokasi di jalan Raya Bogor KM 17 Jakarta Timur. Penelitian lokasi dilakukan secara sengaja (purposive) dengan pertimbangan bahwa Pasar Induk Kramat Jati merupakan salah satu pusat perdagangan besar sayur-mayur dan buah-buahan untuk menjamin kelancaran distribusi nasional dan juga sebagai terminal pengadaan dan penyaluran sayur-mayur dan buah – buahan yang akan berpengaruh kepada kegiatan perekonomian baik nasional maupun regional. 
Pelaksanaan penelitian dilakukan pada bulan Maret - Mei 2018. Adapun perincian kegiatan pelaksanaan penelitian ini mulai dari pembuatan surat izin penelitian pengambilan data lapangan dan mengolah data. Metode penelitian pada dasarnya merupakan cara ilmiah untuk mendapatkan data dengan tujuan dan kegunaan tertentu. Berdasarkan hal tersebut menurut Sugiyono (2013: 3) terdapat empat kata kunci yang perlu diperhatikan yaitu, cara ilmiah, data, tujuan, dan kegunaan.
Prosedur penelitian kualitatif yang menghasilkan data dan deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang diamati. Singkatnya kata-kata lebih memberikan makna daripada angka-angka. Penelitian ini juga menginterpretasikan atau menterjemahkan dengan bahasa peneliti tentang hasil penelitian yang diperoleh dari informan dilapangan sebagai wacana untuk mendapat penjelasan tentang kondisi yang ada.
Alasan peneliti memilih pendekatan dan jenis penelitian kualitatif deskriptif karena peneliti ingin mendalami teori penetapan harga sebagai gejala sosial yang sulit diungkapkan dengan pendekatan matematis.
TEKNIK PENGUMPULAN DAN ANALISIS DATA

Dalam suatu penelitian teknik pempulan data merupakan hal yang sangat penting. Karena inti dari suatu penelitian adalah mendapatkan data. Data yang telah di dapat akan dianalisis yang pada akhirnya akan menjadi suatu temuan.  Pada penelitian peneliti menggunakan strategi observasi partisipatif, wawancara semi terstruktur, mengumpulkan dokumentasi kualitatif dan triangulasi. 
Dalam hal ini peneliti menggunakan strategi observasi partisipatif maksudnya adalah peneliti dalam melakukan pengumpulan data peneliti ikut terlibat dengan kegiatan sehari-hari objek penelitian yang sedang diamati atau yang digunakan sebagai sumber data penelitian. Sambil melakukan pengamatan, peneliti ikut melakukan apa yang dikerjakan oleh sumber data, dan ikut merasakan suka dukanya. Maka, data yang diperoleh akan lebih lengkap, tajam, dan sampai mengetahui pada tingkat makna dari setiap perilaku yang nampak. Selain melakukan observasi peneliti juga melakukan wawancara dalam mengumpulkan data. Teknik wawancara yang dipilih adalah wawancara semi terstruktur.
Proses menjaring dan memperoleh data, harus mengunakan prosedur agar dapat menjaring data secara maksimal. Sebelum menjaring data perlu menyiapkan beberapa hal menggunakan protokol observasi, protokol wawancara  agar observasi dan wawancara dapat terstruktur dengan baik. Selain itu untuk mendapatkan materi-materi visual dapat direkam atau dicatat sesuai dengan keinginan, catatan-catatan ini harus merefleksikan informasi mengenai dokumen tersebut atau materi lain serta gagasan dari materi tersebut.


















Gambar 1 Harga Cabai Rawit Merah Tahun 2018



Peneliti melakukan analisis data sebelum dilapangan, analisis dilakukan terhadap data hasil studi pendahuluan, atau data sekunder yang akan digunakan untuk menentukan fokus dalam penelitian. Akan tetapi fokus penelitian masih bersifat sementara. Data  yang didapat dari lapangan bisa ratusan bahkan ribuan data maka dari itu perlu adanya reduksi data untuk merangkum, memilih hal-hal yang pokok dan memfokuskan pada hal- hal yang penting dan membuang data yang tidak penting. Setelah mereduksi data langkah selanjutnya adalah mendisplay data Display data pada kualitatif bisa dibuat dalam bentuk uraian singkat, bagan, atau flowchart. Dengan membuat penyajian dalam bentuk bagan itu akan memudahkan pembaca dalam memahaminya karena sudah bisa dimengerti dengan bagan yang dibuat secara langsung pada pointnya dan disertai dengan  penjelasannya secara detail. Menurut Miles and Huberman menyatakan bahwa yang paling sering digunakan untuk menyajikan data dalam penelitian kualitatif adalah dengan teks yang bersifat naratif. Tujuan dari men- display data adalah untuk memudahkan dalam memahami apa yang terjadi, dan merencanakan langkah selanjutnya setelah memahami data yang di peroleh.  



 











Gambar 2 Ilustrasi: reduksi data, display data, dan verifikasi


V.          ANALISIS DAN PEMBAHASAN
Pada tanggal 30 Maret 2018 saya observasi pertama kali mendatangi PD. Pasar Jaya Pasar Induk Kramat Jati untuk meminta izin apakah tempat tersebut bisa untuk dilakukannya penelitian, pada saat saya memberikan surat izin observasi ke bagian Administrasi bertemu dengan Bapak Agus, lalu saya diarahkan langsung ke bagian Informasi Data dengan Bapak H.Minto dan Bapak Komar selaku staf bagian Informasi Data untuk melakukan observasi, setelah mendapatkan informasi mendalam lalu saya diizinkan untuk lebih lanjut melakukan penelitian tentang Penetapan Harga Diskriminasi cabe rawit merah di Pasar Induk Kramat Jati. Setelah mendapatkan izin tersebut saya pun langsung melakukan penelitian dengan Bapak Sujiman selaku pedagang besar cabe rawit merah yang sudah berdagang cabe rawit merah di pasar induk selama kurang lebih 30 tahun dan Bapak Riyadi selaku pedagang kecil cabe rawit merah yang lama berdagang di Pasar Induk Kramat jati kurang lebih 15 tahun serta rekan-rekan pedagang cabe rawit merah di Blok H Pasar Induk Kramat Jati untuk mengetahui lebih dalam tentang penetapan harga cabe rawit merah di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur.
Penetapan harga segmen pelanggan
Menurut wawancara tiga informan pada tanggal 11 – 12 Mei 2018, di Pasar Induk Kramat Jati melakukan diskriminasi harga jual cabe rawit merah kepada beberapa jenis pelanggan, yaitu:
a)      Pelanggan pedagang pasar eceran, pedagang pasar induk kramat jati biasanya memberikan harga dibawah harga standar kepada pedagang pasar eceran karena mereka membeli 1 Karung/± 80 kilogram.
b)      Pelanggan restoran, pedagang cabe rawit merah di pasar induk memberikan harga di atas harga standar kepada pihak restoran karena permintaan cabe rawit merah yang berkualitas baik.
c)      Pelanggan catering / rumah makan sederhana, pedagang cabe rawit merah memberikan  harga standar kepada pelanggan catering / rumah makan sederhana. 
Jadi, dapat peneliti simpulkan bahwa di Pasar Induk Kramat Jati menetapkan harga sesuai harga segmen pelanggan karena pedagang melihat adanya kebutuhan yang berbeda antara pelanggan pasar eceran, pelanggan restoran dan pelanggan catering.




















Tabel 1 Maping Daerah Pemasok Cabai Rawit Merah ke Pasar Induk Kramat Jati Musiman
Sumber : PD Pasar Jaya Pasar Induk Kramat Jati



Penetapan harga waktu
Menurut tiga informan dalam wawancara tanggal 21 dan 22 Agustus 2015, Di pasar induk kramat jati harga cabe rawit merah selalu berubah-ubah sesuai kondisi, disebabkan oleh penumpukan pasokan/dengan sedikitnya pasokan cabe rawit merah dan juga konsumen cabe rawit merah secara tidak langsung sudah memiliki waktu belanja. Dapat dibuktikan dalam hasil wawancara mengenai harga jual cabe rawit merah pada bulan Ramadhan 1436 H berikut:


















Tabel 2 Harga Jual Cabai Rawit Merah pada Saat Bulan Ramadhan 1436 H
Sumber : Pedagang Bandar Cabai Rawit Merah di Pasar Induk Kramat Jati


 KESIMPULAN DAN SARAN
Kegiatan penetapan harga segmentasi pelanggan di Pasar Induk Kramat Jati memiliki 3 jenis pelanggan cabe rawit merah di Pasar Induk Kramat Jati, yaitu: 
a)      Pelanggan Pasar Eceran daerah pinggiran Jakarta, Bogor. Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek) dengan kuantitas pembelian minimal 1 karung/75-85 kg.
b)      Pelanggan Restoran Jakarta dan sekitarnya dengan kualitas pembelian pembelian Minimal 10 kg cabe rawit merah kualitas baik,
c)      Pelanggan catering Jakarta dan sekitarnya dengan minimal pembelian 10 kg cabe rawit merah kualitas standar-baik. 
Saran yang dapat diberikan peneliti adalah untuk mempertahankan kegiatan penetapan harga segmentasi pelanggan di Pasar Induk Kramat jati serta ditingkatkan melalui penetapan ketentuan pembelian yang dibuat oleh pemerintahan terkait agar mata rantai distribusi cabe rawit merah tidak keluar dari koridor sehingga meminimalisir harga jual di sekitar Jabodetabek melonjak tinggi. Mempertahankan kegiatan penetapan harga bentuk produk yang sudah berlaku di Pasar Induk Kramat Jati serta pedagang harus objektif dalam menangani harga bentuk produk cabe rawit merah. Agar menarik simpati konsumen alangkah baiknya di blok H yang di khususkan untuk lokasi cabe di buat papan info update cabe asal pasokan khususnya cabe rawit merah, kegiatan tersebut untuk mengusahakan konsumen cerdas dalam membeli cabe rawit merah. 
Pemerintah terkait memberikan kebijakan bahwa pasokan yang datang ke Pasar Induk Kramat jati harus membawa surat jalan juga lampiran tonase pasokan dari petani pengepul daerah pemasok dan pedagang memberikan laporan volume penjualan kepada pihak PD. Pasar Jaya agar dapat diteliti lebih lanjut tingkat konsumsi cabe rawit merah pada setiap bulannya, hal ini mengupayakan untuk meminimalisir kenaikan harga cabe rawit merah di Pasar Induk Kramat Jati. Menambahkan papan update info pasokan cabe rawit merah serta update harga rata-rata pertiap kondisi di blok H Pasar Induk Kramat jati agar menjalin hubungan baik antara PD. Pasar Jaya, Pedagang cabe rawit merah dan konsumen.

  DAFTAR PUSTAKA
Abdullah, Thamrin dan Francis Tantric. 2012. Manajemen Pemasaran. Jakarta: Raja Grafindo.
Fatimah. 2014. Merancang dan Program Penetapan Harga. FKIP UNSRI.
Oentoro, Deliyanti. 2012. Manajemen Pemasaran Modern. Yogyakarta: LaksBang PRESSindo
Peraturan Menteri Perdangangan Republik Indonesia 20016 Tentang Penetapan Harga Acuan Pembelian Di Petani dan Harga Acuan Penjualan di Konsumen.
Purhantara, Wahyu. 2010. Metode Kualitatif Untuk Bisnis. Yogyakarta : Graha Ilmu. 
Resiva, Winda. 2013. Pengaruh Penetapan Harga Terhadap Volume Penjualan Masker Bengkoang di PT Mustika Ratu, TBK Jakarta. Jakarta: Universitas Muhammadiyah Prof.DR. Hamka.
Sugiyono. 2013. Metode Penelitian Kombinasi. Bandung: Alfabeta.


DOKUMENTASI PENELITIAN
Gambar 3 Observasi Awal di Pasar Induk Kramat Jati
(Dokumentasi Pribadi, 2018)


Gambar 4 Observasi Akhir di Pasar Induk Kramat Jati
(Dokumentasi Pribadi, 2018)

Gambar 5 Kualitas Cabai Rawit Merah di Pasar Induk Kramat Jati
(Dokumentasi Pribadi, 2018)

Gambar 6 Wawancara dengan Pedagang Cabai di Pasar Induk Kramat Jati
(Dokumentasi Pribadi, 2018)

Gambar 7 Cara Pedagang menjual barangnya ke Konsumen di Pasar Induk Kramat Jati
(Dokumentasi Pribadi, 2018)

Gambar 8 Presentasi Hasil Penelitian
(Dokumentasi Pribadi, 2018)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar